Oke, mari bicara tentang kita, walau itu berarti harus bicara juga tentang keterlanjuran. Berawal pada sebuah hari, yang tidak istimewa, kamu, aku, dan dia berada dalam sebuah suasana. Tak dapat kututupi bahwa dia mengagumimu dan menularkannya kepadaku, seperti juga ditularkannya ambisi dan pikirannya yang kadang tidak kumengerti. Bahkan dia menyuruhku mengikutimu ke kota itu hanya agar aku bisa menjadi sepertimu. Menyebalkan, ketika tanpa sadar aku memasuki dunia yang sesungguhnya tidak kuingini, hanya karena kekagumannya padamu. Betapa dendamnya aku padamu, tapi tidak padanya, karena sejatinya setengah dari diriku adalah duplikasi dirinya.
Kemudian, kekaguman itu berubah menjadi rasa yang lebih. Berandai-andai menjadi bagian dari hidupmu, dari proses pencarianmu, dari luka perjalananmu. Tapi, seorang yang memandang hidup dengan sinis dan skeptis seperti aku tak akan punya cukup energi awal untuk menujumu. Memandangmu dari kejauhan, lebih merupakan kebahagiaan tak terkira daripada benar-benar ada di sampingmu. Memandangmu yang semakin angkuh dan jauh dariku. Kusimpan rapat-rapat semua rasaku padamu, tanpa ingin kubagi. Biarlah menjadi penghuni tetap sudut hatiku yang murung.
Hingga tiba suatu hari aku memulai kesalahan itu. Tekhnologi telah mengkhianatiku. Menyapamu ternyata menjadi persoalan bagiku. Kupikir aku masih bisa seperti dulu, memandangmu dari sudut hati yang tersembunyi. Menafsirkan tulisan-tulisanmu sesukaku, sepuasku. Tak kuduga, kamu berbeda kali ini. Kau pancing aku untuk sampai pada titik ini. Aku tak bisa begini. Bergerilya tiap hari, menyelinap di malam hari hanya untuk berharap sepenggal kata darimu. Dulu aku tak begini. Dulu aku tak peduli dengan sikapmu. Aku hidup dari persepsiku tentangmu, tapi sekarang aku harus menghadapi kenyataan. Dua kenyataan sekaligus, bahwa kau disana berkata begitu dan bahwa aku disini dalam sangkar emas yang sulit kuatasi.
Andai dapat kuulang waktu. Tapi aku tak tahu mana yang harus kusesali lebih dulu. Aku gembira akan hadirmu, aku ingin tertawa, tapi aku tertahan cuaca.
Biarkanlah semua tetap tersimpan indah di sudut hatiku, tak perlu kau tahu. Tak perlu seorangpun tahu. Karena nasib untuk diakrabi bukan dimusuhi. Terimakasih atas sepotong hatimu yang kau bagi denganku.Ini bukan penolakan, hanya ketidakberdayaan.