Tak kusangka, ternyata pantai Ancol indah juga dikala senja. Melihat matahari yang seolah enggan tenggelam di balik cakrawala, membuatku semakin merasa melankolis. Apalagi dengan banyaknya masalah yang menimpaku akhir-akhir ini. Masalah yang sebenarnya tidak akan timbul seandainya saja aku tetap bersembunyi.
Dulu kupikir, hanya gunung yang bisa kunikmati. Proses pendakian yang butuh usaha keras, pepohonan yang rapat dan lembab, serta kicauan burung dan jeritan satwa hutan yang membuatku jatuh hati pada gunung. Selain juga karena kesendiriannya yang jarang tersentuh. Dalam sepi di gunung aku bias merefleksi diri, mencari makna yang sulit kujumpai bila kuberada di keramaian orang. Dalam sepi di gunung aku bisa bersahabat dengan pohon dan satwa yang kadang lebih bijak dari manusia yang sering minta disebut sebagai makhluk sempurna. Dalam sepi di gunung aku bisa menangkap ruang dan memilikinya utuh, tanpa kubagi.
Tetapi kemudian, dengan alasan teknis, aku tak dapat lagi pergi ke gunung. Akhirnya aku pergi saja ke pantai, mencoba menikmati sisi lain dari arti keindahan alam. Di tengah hiruk pikuk orang, aku mencoba memahami apa yang terjadi belakangan ini. Aku ingin berbagi hati dengan orang-orang itu, tapi aku tak mampu.
Seandainya kau ada disini, ah…aku juga tak yakin aku bisa membaginya denganmu.
Senja di pantai Ancol, berujung pada tangis yang tak kusadari. Cengeng, rapuh, lemah, dan tak berguna, yah…kuakui semuanya. Padahal aku tahu hidup ini seperti roda, tak akan bergulir bila tak dikayuh. Darimana kan kudapati kesempurnaan bila aku hanya berdiam disini? Menanti waktu menjemput dan membawaku pada ajal yang sia-sia.
Dengan malu-malu matahari mulai meninggalkanku. Senja yang murung berganti malam kelam berhias cahaya lampu kota di kejauhan. Beribu-ribu kelip lampu, hamparan cahaya, menemaniku kini. Pasrah kunikmati pantai ini, walau sunyi tak kudapati jua. Ada saja orang yang lewat didekatku. Melirik keheranan sebentar kemudian pergi lagi. Aku seperti sendiri, tapi aku tidak sendiri.
Suatu ketika aku pernah berandai-andai. Aku ingin jadi astronot yang tinggal di stasiun luar angkasa untuk jangka waktu yang tak kuketahui. Berteman bintang dan planet-planet. Tapi kemudian kupikirkan lagi. Aku ini sungguh TERLALU. Tinggal bersyukur aja kok susah amat. Padahal untuk bersyukur tidak butuh energy yang melimpah. Hanya butuh keikhlasan dan sedikit sikap positif memahami luka jiwa.
Adzan berkumandang. Kemana lagi ku kan mengadu selain kepadaMu ya Allah. Kebersungkur di hadapanMu, memohon Kau lapangkan dadaku, agar terangkat semua beban yang menghimpitku.