Pagi yang cerah, 16 Juni 2004 kala itu. Hari yang telah lama aku tunggu-tunggupun akhirnya tiba. Mulas diperutku adalah pertanda bagus bahwa penderitaan kehamilanku akan segera berakhir. Pukul 14.30 atas rahmat Tuhan yang Maha Kuasa lahirlah anak pertamaku. Perempuan dengan berat 3 kg dan panjang 52cm yang kuberi nama Nafisa Kalkarenita.
Hari-hari kulalui untuk merawat bayi mungilku dengan penuh kasih. Sampai pada umur 10 bulan ketika Nafisaku mulai bermasalah dengan kesehatannya. Siang itu ketika Nafisa sedang asyik bermain di teras rumah, pembantu berteriak memanggilku. “Ibu, dicelana Nafisa ada darah!”, katanya dengan wajah cemas. Kuperiksa celana anakku untuk memastikan perkataannya. Dan benar, terdapat setetes darah di celana anakku. Sorenya aku bawa anakku ke dokter umum di dekat rumah. Karena noda darah tidak terlihat jelas, beliau hanya menyimpulkan itu hanya kotoran saja. Aku pulang dengan hati lega.
Keesokan paginya kembali kutemukan noda darah itu. Kali ini sudah lebih jelas daripada kemarin, sehingga aku benar-benar yakin bahwa anakku mengalami pendarahan.
“Pa, pulang cepat ya!’,kataku pada suamiku.”Kita harus bawa Nafisa ke dokter spesialis anak”. Tanpa banyak pertanyaan suamiku langsung menyetujui permintaanku.
Malamnya, sepulang suamiku dari kantor, aku membawa Nafisa ke RS terdekat. Dokterpun memeriksa kondisi umum Nafisa. ”Untuk memastikan asal darah itu, Nafisa harus menjalani tes urin”, kata dokter itu menjelaskan. “Saya belum dapat memberikan treatment apa-apa sebelum tahu pasti asal darah tersebut, apakah dari vagina atau dari lubang pipis.
Keesokannya akupun kembali ke bagian laboratorium RS tersebut untuk menyerahkan sample urin Nafisa. Pikiranku agak kacau karena bagaimanapun pendarahan bukanlah gejala yang wajar untuk anak seumur Nafisa. Hasil pemerikasaan urin baru bisa aku dapatkan keesokan harinya. Pagi-pagi aku sudah tiba di laboratorium rumah sakit tersebut. Setelah mendapatkan hasil pemerikasaan urin kemudian aku membuat janji dengan dokter anak untuk mengkonsultasikan hasil pemeriksaan tersebut pada sore hari nanti.
“Saya tidak dapat menyimpulkan banyak hal dari hasil lab ini. Dari sini hanya bisa kita dapatkan bahwa tidak ada infeksi bakteri dan tidak ada kristal dalam urinnya. Kita masih belum tahu darimana asal darah tersebut. Untuk lebih jelasnya saya sarankan untuk melakukan USG pada abdomen bawah Nafisa”, demikian Bu dokter menjelaskan kepada kami. Pernyataan dokter tersebut membuatku semakin mengkhawatirkan penyakit Nafisa. Tanpa berpikir dua kali saya langsung menyetujui saran dokter tersebut, karena toh USG hanya menggunakan gelombang suara sehingga tidak memiliki efek samping untuk anakku. Saat itu juga aku membawa anakku ke ruang USG di rumah sakit tersebut.
Treatment USG cukup membuat anakku stress dan menjerit-jerit ketakutan. Kutabahkan hati mendengar tangisan dan jeritannya karena memang tahap inilah yang harus dilaluinya untuk mengetahui penyakitnya. Kulihat ada ekspresi terkejut pada wajah dokter itu. Kemudian beliau berkata,”Ukuran rahim terlalu besar untuk usianya. Saya mencurigai ada tumor disana”. Melongo dan tak dapat berkata-kata apa aku mendengar ucapan dokter itu. Dokter gila darimana ini yang tiba-tiba menyatakan anakku kemungkinan memiliki tumor di rahimnya. Setelah sejenak terdiam dokter itu melanjutkan,”Untuk lebih pasti apa sesungguhnya yang terdapat di dalam sana, sebaiknya dilakukan CT-scan”. Tak dapat saya pungkiri, hati saya sedih sekali dan juga bingung saat itu. CT-Scan untuk anak seumur Nafisa bukan treatment yang aman karena CT-Scan menggunakan radiasi yang bisa berdampak buruk pada sel-sel muda tubuhnya. Tetapi aku juga tidak dapat mengabaikan kenyataan bahwa dengan USG kami belum mendapat kesimpulan apa-apa tentang penyakit Nafisa.
Setelah kupikir panjang lebar, akhirnya aku memutuskan untuk mencoba mencari second opinion dari dokter lain. Keesokan harinya kami pergi dokter di rumah sakit lain yang menurut kami cukup terpercaya. Setelah menunjukkan hasil USG dari dokter pertama tadi, dokter yang kelihatannya sudah cukup senior tersebut berkomentar, “Kalau yang yang jadi masalah adalah kandung kemih, tidak dapat dicari melalui USG, sulit dilihat karena posisinya ada di belakang. Menurut saya, pendarahan pada anakmu ini pendarahan yang wajar karena infeksi saluran kemih saja. Nanti saya resepkan antibiotik. Tidak usah khawatir”.
Lega hati saya mendengar perkataan dokter tersebut. Sepulang dari Runah Sakit di pusat kota Jakarta tersebut, kami mampir sebentar di rumah saudara kami yang tinggal tidak jauh dari Rumah Sakit tersebut. Karena sudah lebih dari 6 jam, aku berencana untuk mengganti diaper Nafisa. Betapa terkejutnya aku melihat diaper anakku sudah penuh dengan darah. Dia mengalami pendarahan yang hebat. Pantas saja Nafisa tadi terus tertidur selama perjalanan dan juga bibirnya membiru selama di rumah sakit.
Dengan panik aku langsung membawa Nafisa ke UGD rumah sakit yang terdekat dengan rumah saudaraku itu. Rumah sakit ketiga yang aku masuki dalam rangka mencari tahu penyakit anakku. Kami diterima oleh seorang dokter muda yang bertugas menjaga UGD tersebut. Dia kemudian membersihkan darah pada kemaluan anakku untuk mengetahui darimana darah tersebut berasal. Ternyata darah tersebut berasal dari vagina anakku. Dokter tersebut kemudian menyarankanku untuk rawat inap. Untunglah semua biaya pengobatan anakku mendapat pengantian dari kantor tempat suamiku bekerja.
Setelah menempati kamar kelas VIP pada rumah sakit tersebut, kami dibawa oleh suster menemui dokter kandungan. Reaksi pertama dokter kandungan tersebut adalah bengong, menyadari bahwa pasiennya kali ini adalah bayi berumur 10 bulan. Setelah dia memeriksa sebentar kemudian dia menyarankan Nafisa untuk menjalani CT-Scan sambil berkomentar,”Selama 20 th saya menjadi dokter kandungan, baru kali ini saya memiliki pasien berumur 10 bulan.” Komentar yang tidak menenangkan bagiku sebagai ibu dari pasiennya itu. Kali ini aku tidak berpikir panjang untuk menyetujui permintaan dokter tersebut untuk melakukan CT-Scan. Firasatku, penyakit Nafisa ini sepertinya dekat dengan kematian. Apalah artinya mutasi sel oleh radiasi CT-Scan dibandingkan nyawa anakku yang terancam.
Harapanku akan ringannya penyakit Nafisa terbang sudah. Dokter menyampaikan bahwa memang ada benjolan pada rahim Nafisa, dan benjolan tersebut cukup besar yang berarti benjolan tersebut aktif. Solusinya hanya satu yaitu operasi. Runtuh langit di kamar rawat inap rumah sakit itu terasa olehku. Anak sekecil itu harus menjalani operasi besar mengangkat benjolan di rahim. Oh, Tuhan. Salah apa aku ini! Secara medis jalan satu-satunya memang hanyalah operasi. Tetapi aku mencoba bertanya pada ahli pengobatan alternatif untuk mencari penyelesaian masalah anakku ini. Dan sang ahli itupun berkata,”kalau untuk anak umur segitu benjolan akan tumbuh lebih cepat daripada orang dewasa karena bayi memiliki sel-sel muda yang masih aktif tumbuh. Sedangkan pada sel dewasa tidak terdapat lagi pertumbuhan. Demikian juga dengan benjolannya. Oleh karena itu, benjolan tersebut membutuhkan penyelesaian secara cepat, yaitu operasi. Pengobatan alternatif bersifat pelan dan lama, tidak akan bisa mengejar pertumbuhan benjolan tersebut.”
Pasrah, akhirnya menjadi jalan keluar bagiku saat itu. Berdoa dan terus berdoa memohon keselamatan dan kesembuhan untuk anakku. Ternyata tidak cukup sampai disitu Tuhan menguji imanku. Operasi anakku berjalan lancar walaupun terpaksa rahim anakku tidak dapat diselamatkan. Hidup tanpa memiliki rahim, itulah kenyataan yang harus Nafisa hadapi di masa depan nanti. Itupun bila masa depan itu memang masih sabar menunggunya. Dari laporan hispatologi sayatan benjolan yang diambil dari rahim Nafisa menyataan bahwa benjolan tersebut bersifat ganas alias kanker. Kesimpulan ini didukung pula oleh hasil tes AFP (penanda tumor) pada darah anakku yang menunjukkan angka 9500, dimana seharusnya nilainya tidak lebih besar dari 10.
Rasa kepercayaanku kepada Tuhan menjadi sedikit goyah. Aku tak mengerti kenapa Dia memilihku untuk menghadapi masalah ini. Aku bukan Nabi yang dikarunia ketabahan tingkat tinggi menghadapi cobaan-cobaanMu. Aku juga bukan sahabat Nabi yang memiliki kayakinan yang teguh tentangMu. Bahkan aku bukan pula orang bijak yang pandai mengambil hikmah dari peristiwa-peristiwa. Aku hanya manusia biasa dengan tingkat ketuhanan yang biasa-biasa saja. Kenyataan yang menimpaku ini benar-benar membuat hatiku hancur. Penyakit yang hanya terdapat pada 1 berbanding 1000 anak manusia terjadi pada anakku.
Anak hanyalah titipan Tuhan. Kita hanya bertugas merawat dan mengasuhnya dengan baik. Namanya juga titipan,setiap saat Sang Empunya Jiwa boleh mengambilnya. Dengan ataupun tanpa persetujuan kita, Tuhan akan mengambilnya bila memang Dia berkehendak demikian. Pikiran positif inilah yang terus menerus aku camkan dalam benakku. Mati satu tumbuh seribu adalah mottoku. Bukannya aku ingin menggganti Nafisa dengan anak-anak yang akan kulahirkan berikutnya, aku hanya berusaha bertahan. Lagipula Nafisa adalah Nafisa, tidak akan tergantikan oleh apapun dan siapapun.
Kemoterapi adalah metode pengobatan yang disarankan oleh para ahli medis. Bukan hal yang mudah bagiku untuk memutuskan memilih kemoterapi sebagai jalan keluar penyakit anakku. Kemoterapi adalah pengobatan yang penuh derita dan sengsara. Pasien yang menjalani kemoterapi umunya akan merasa mual, pusing dan muntah sepanjang pengobatan. Rambut akan rontok, kulit menghitam, dan nafsu makan berkurang sehingga tubuh menjadi kurus kering. Kucoba kembali menghubungi ahli pengobatan alternatif untuk mendapat kesempatan selain kemoterapi. Komentar ahli pengobatan alternatif itu tidak mendukungku untuk memilih jalan lain selain kemoterapi. “Bila ibu punya biaya cukup, sebaiknya jalani saya kemoterapinya, karena sejauh ini itulah pengobatan paling rasional yang bisa diberikan untuk penderita kanker. Memang ada beberapa pasien yang sembuh dengan pengobatan alternatif, tetapi tidak semua pasien cocok dengan pengobatan alternatif. Sedangkan kemoterapi sudah terbukti secara statistik berhasil menyembuhkan penyakit kanker sebanyak 85 %.
Akhirnya kuputuskan untuk mengambil kesempatan 85% tersebut. Setelah mengumpulkan informasi dari sana-sini akhirnya aku menemukan dokter anak yang ahli di urusan kanker anak. Ketika aku bertemu dengan beliau sudah 2 minggu berselang sejak kepulangan Nafisa dari rumah sakit tempat dia menjalani operasi. Darah sudah kembali mengucur dari vaginanya. Itu artinya kankernya sudah mulai berulah lagi. Tanpa pikir panjang aku segara mendaftar untuk rawat inap di rumah sakit negeri yang sudah tua umurnya, tempat dokter ahli tersebut berpraktek.
Keesokan harinya, kemoterapi untuk Nafisapun dimulai. Ternyata banyak sekali anak-anak yang menderita sakit kanker di rumah sakit tersebut. Umumnya mereka menderita kanker darah atau leukimia. Selain Nafisa, kanker pada organ reproduksi diderita oleh 2 anak laki-laki lain yang juga sedang rawat inap di rumah sakit tersebut ketika itu. Hal ini sedikit menenangkanku karena aku merasa tidak sendiri menghadapi cobaan ini. Ternyata banyak juga orangtua-orangtua lain yang anaknya menderita penyakit yang penyebabnya sampai saat ini tetap menjadi rahasia Tuhan. Tidak seperti penyakit kanker pada orang dewasa yang biasanya menjadikan pola makan sebagai penyebab utama, kanker pada anak tidak dapat menjadikan pola makan sebagai kambing hitam. Nafisa baru berumur 10 bulan ketika ketahuan terkena penyakit kanker, sedangkan 6 bulan pertama dalam hidupnya ASI Eksklusif. Melihat ukuran kankernya yang sudah sebesar bola tenis dan sudah menjalar sampai usus buntu, tentunya kanker ini mengawali kehadirannya dalam tubuh Nafisa jauh sebelum waktu terdeteksinya kehadirannya.
Kita khawatir dan cemas akan sesuatu karena kita tidak memiliki pengetahuan tentang hal tersebut. Berpegang pada ide itu maka aku berusaha mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang kanker dan kemoterapi. Melalui buku, tulisan, tanya kanan kiri, akhrnya aku menjadi sedikit lebih tegar menghadapi kondisi kesehatan anakku yang naik turun karena kanker.
Mual, muntah, panas tinggi sampai kejang, dan rewel terus menerus sudah menjadi pemandangan yang biasa kutemui setiap hari di kamar rawat inap rumahsakit ini. Hal ini terjadi juga terhadap Nafisa. 3 bulan anakku harus menjalani kemoterapi dosis tinggi, setelah itu dilanjutkan dengan maintenance sebulan sekali selama 2 tahun.
Tawakal, pasrah, ikhlash, dan percaya Tuhan akan memberiku yang terbaik selalu kucoba tanamkan dalam-dalam di hatiku. Tak terasa masa-masa sulit itu sudah kulalaui. Sekarang Nafisa sudah berumur 4 tahun. Hasil CT-Scan dan tes AFP sudah menunjukkan bahwa kanker anakku sementara tidak aktif. Dokter tidak dapat memastikan apakah kanker tersebut sudah mati atau hanya dormant saja. 10 tahun setelah kemoterapi selesai baru bisa dipastikan apakah kanker pada tubuh Nafisa masih hidup atau telah mati.
Dengan penuh tanda tanya akan ketidakpastian umur anakku, aku mencoba memberikan kehidupan senormal mungkin padanya. Walaupun pengobatan kemoterapi sedikit banyak pastilah memberikan trauma kepadanya. Toh, setiap jiwa akan kembali kepada pemilikya, baik itu penderita kanker atau bukan. Hanya masalah waktu.
Terimakasih yang tak terhingga saya sampaikan kepada dokter-dokter yang melalui tangan mereka Tuhan telah memperpanjang umur Nafisa.
Berdasarkan urutan pertemuan:
Dr Evita KB Ifran
Dr UGD RSPP yang saya tidak tahu namanya
Dr Zulkarnaen H
Dr Ali Umar Achmad
Dr Mulyono
Dr Hermawan
Dr Djajadiman Gatot
Serta para suster dan dokter pembantu lain yang tidak dapat saya sebut satu persatu.
Mendidik anak tidak lepas dari didikan sebagai orangtua. berhati-hatilah dalam mendidik anak agar tidak mengakibatkana anak menjadi jiwa yang kerdil, minder, pesimis dan lain-lain. karena gaya mendidik orangtua dapat membentuk kepribadian anak.
—————————————————————————————————————————
Rahasia mendidik anak agar sukses dan bahagia di anekapilihan.com
i am trying…i am trying to be a good mother. terimakasih commentnya