Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Kabur ah…!!!

Penghuni rumah ini telah pindah ke www.umikartikawati.blogdetik.com

Oke, mari bicara tentang kita, walau itu berarti harus bicara juga tentang keterlanjuran. Berawal pada sebuah hari, yang tidak istimewa, kamu, aku, dan dia berada dalam sebuah suasana. Tak dapat kututupi bahwa dia mengagumimu dan menularkannya kepadaku, seperti juga ditularkannya ambisi dan pikirannya yang kadang tidak kumengerti. Bahkan dia menyuruhku mengikutimu ke kota itu hanya agar aku bisa menjadi sepertimu. Menyebalkan, ketika tanpa sadar aku memasuki dunia yang sesungguhnya tidak kuingini, hanya karena kekagumannya padamu. Betapa dendamnya aku padamu, tapi tidak padanya, karena sejatinya setengah dari diriku adalah duplikasi dirinya.

Kemudian, kekaguman itu berubah menjadi rasa yang lebih. Berandai-andai menjadi bagian dari hidupmu, dari proses pencarianmu, dari luka perjalananmu. Tapi, seorang yang memandang hidup dengan sinis dan skeptis seperti aku tak akan punya cukup energi awal untuk menujumu. Memandangmu dari kejauhan, lebih merupakan kebahagiaan tak terkira daripada benar-benar ada di sampingmu. Memandangmu yang semakin angkuh dan jauh dariku. Kusimpan rapat-rapat semua rasaku padamu, tanpa ingin kubagi. Biarlah menjadi penghuni tetap sudut hatiku yang murung.

Hingga tiba suatu hari aku memulai kesalahan itu. Tekhnologi telah mengkhianatiku. Menyapamu ternyata menjadi persoalan bagiku. Kupikir aku masih bisa seperti dulu, memandangmu dari sudut hati yang tersembunyi. Menafsirkan tulisan-tulisanmu sesukaku, sepuasku. Tak kuduga, kamu berbeda kali ini. Kau pancing aku untuk sampai pada titik ini. Aku tak bisa begini. Bergerilya tiap hari, menyelinap di malam hari hanya untuk berharap sepenggal kata darimu. Dulu aku tak begini. Dulu aku tak peduli dengan sikapmu. Aku hidup dari persepsiku tentangmu, tapi sekarang aku harus menghadapi kenyataan. Dua kenyataan sekaligus, bahwa kau disana berkata begitu dan bahwa aku disini dalam sangkar emas yang sulit kuatasi.

Andai dapat kuulang waktu. Tapi aku tak tahu mana yang harus kusesali lebih dulu. Aku gembira akan hadirmu, aku ingin tertawa, tapi aku tertahan cuaca.

Biarkanlah semua tetap tersimpan indah di sudut hatiku, tak perlu kau tahu. Tak perlu seorangpun tahu. Karena nasib untuk diakrabi bukan dimusuhi. Terimakasih atas sepotong hatimu yang kau bagi denganku.Ini bukan penolakan, hanya ketidakberdayaan.

Cinta, kata yang terdiri dari 5 huruf ini, belakangan seperti selalu terngiang-ngiang di telingaku, entah dibisikkan oleh malaikat atau setan. Cinta itu sebenarnya adalah bagian dari fenomena alam yang punya penjelasan ilmiah. Secara kimiawi cinta memiliki tiga tahapan, yaitu:

  1. Tahap terkesan. Pada tahap ini bekerja hormon feromon atau lebih dikenal sebagai hormon asmara. Pengaruh hormon feromon ini pada simpul-simpul ayaraf adalah menimbulkan perasaan terguncang atau berdesir terhadap manusia lain yang disukai.
  2. Tahap nafsu. Pada tahapan ini bekerja hormon amfetamin, yang membuat manusia tidak sekedar merasa suka tetapi sudah pada tingkatan bernafsu, seperti misalnya berciuman dan hal-hal lain yang berbau mesum. Hormon ini akan merangsang kita ke alam bawah sadar. Oleh karena itu, ketika percumbuan terjadi, kita tidak akan puas sebelum mencapai klimaks.
  3. Tahap pengikatan. Pada tahap ini bekerja hormon endofin yang menimbulkan efek aman dan nyaman. Pada tahap ini sudah tidak terdapat nafsu antara dua orang manusia. Tahapan ini terjadi pada pasangan yang telah menikah atau berencana untuk menikah.

Anak-anak, dengan pengalaman dan kosakatanya yang masih terbatas juga punya definisi sendiri tentang cinta.

  1. Love is…When someone hurts you…  even when you hurt terribly…you don’t cry because you know it will hurt the person who has hurt you! (Mathew – 6 years old)
  2. Love is…When my Granny had athritis, and couldn’t paint her nails…my Granpa did it for her, even though he had athritis too… (REBECCA – 8 years old)
  3. Love is… When a girl uses perfume and a boy uses after shave…and they go out together…and smell one another. (KARL – 5 years old)
  4. Love is… When you know that your older sister loves you…because she gives you all her old clothes…and has to go out and buy new! (LAUREN – 4 years old)
  5. Love is…When an old lady and an old man…are still good friends even though they’ve known one another for a long time. (TOMMY – 6 years old)
  6. Love is… When someone loves you…the way they say your name… It’s different! (BILLY – 4 years old)
  7. Love is… When you go out and offer your potato chips to someone, without waiting for the other person to offer you his! (CHRISSY 6 years old)
  8. Love is…what is with us at Christmas…when you stop unwrapping your presents…and you listen to him! (BOBBY 5 years old)
  9. Love is… If you want to learn to love better…start with a friend you don’t like!  (NIKKA  - 6 years old)
  10. Love is…When you tell someone…something bad about yourself…and you are scared that, that person won’t love you because of what you said…then that person surprises you by loving you even more! (SAMANTHA – 7 years old)
  11. Love is… There are 2 kinds of love…Our love and the love of GOD…The love of GOD joins both! (JENNY 4 years old)
  12. Love is…When Mommy sees Daddy all swetty and dirty…but still tells him…you are still more handsome then. (ROBERT REDFORD“ CHRIS – 8 years old)
  13. Love is…When you tell a boy that his wearing a beautiful shirt…even though he wears the same one everyday! (NOELLE – 7 years old)
  14. Love is…Never say I LOVE YOU only when we feel like it…and if we feel it…then say it more often…people forget to say I LOVE YOU! (JESSICA – 8 years old)
  15. Love is…To hug…to kiss…to say NO! (PATTY – 8 years old)
  16. Love is…When your pet dog licks your face…even though you have left it all alone the whole day! (MARY ANN – 4 years old)
  17. Love is… When you love someone…your eyes roll up and down…and little stars shine from them! (KAREN – 7 years old)
  18. Love is…GOD could have said magic words to be released from the nails on the cross…but HE didn’t…That is LOVE! (MAX – 5 years old)

Ungkapan-ungkapan cinta yang sederhana tapi penuh makna.

 

Bagiku cinta adalah pengalaman rasa, untuk menyempurnakanku sebagai makhluk bergelar manusia, terlepas dari ungkapan-ungkapan ritual kepada sang obyek yang kadang menjadi jenuh dan membosankan. Dalam kebisuannya cinta memberi energi yang tak terkira. Membiarkan cinta tetap menjadi misteri dan berjarak akan semakin membuat cinta terjaga. Bila sirna misteri cinta, yang tersisa hanya hak dan kewajiban semata.

 

Perasaan cinta yang melintasi kotak rasaku kali ini agak sedikit aneh, peristiwa baru tetapi seperti pernah kurasakan di masa lalu. Apakah aku sedang Déjà vu? Pada rasa yang pernah itu?

 

*lagi pengen jadi freestyle suicide bomber (halah…)*

 

Tak kusangka, ternyata pantai Ancol indah juga dikala senja. Melihat matahari yang seolah enggan tenggelam di balik cakrawala, membuatku semakin merasa melankolis. Apalagi dengan banyaknya masalah yang menimpaku akhir-akhir ini. Masalah yang sebenarnya tidak akan timbul seandainya saja aku tetap bersembunyi.

Dulu kupikir, hanya gunung yang bisa kunikmati. Proses pendakian yang butuh usaha keras, pepohonan yang rapat dan lembab, serta kicauan burung dan jeritan satwa hutan yang membuatku jatuh hati pada gunung. Selain juga karena kesendiriannya yang jarang tersentuh. Dalam sepi di gunung aku bias merefleksi diri, mencari makna yang sulit kujumpai bila kuberada di keramaian orang. Dalam sepi di gunung aku bisa bersahabat dengan pohon dan satwa yang kadang lebih bijak dari manusia yang sering minta disebut sebagai makhluk sempurna. Dalam sepi di gunung aku bisa menangkap ruang dan memilikinya utuh, tanpa kubagi.

Tetapi kemudian, dengan alasan teknis, aku tak dapat lagi pergi ke gunung. Akhirnya aku pergi saja ke pantai, mencoba menikmati sisi lain dari arti keindahan alam. Di tengah hiruk pikuk orang, aku mencoba memahami apa yang terjadi belakangan ini. Aku ingin berbagi hati dengan orang-orang itu, tapi aku tak mampu.

Seandainya kau ada disini, ah…aku juga tak yakin aku bisa membaginya denganmu.

Senja di pantai Ancol, berujung pada tangis yang tak kusadari. Cengeng, rapuh, lemah, dan tak berguna, yah…kuakui semuanya. Padahal aku tahu hidup ini seperti roda, tak akan bergulir bila tak dikayuh. Darimana kan kudapati kesempurnaan bila aku hanya berdiam disini? Menanti waktu menjemput dan membawaku pada ajal yang sia-sia.

Dengan malu-malu matahari mulai meninggalkanku. Senja yang murung berganti malam kelam berhias cahaya lampu kota di kejauhan. Beribu-ribu kelip lampu, hamparan cahaya, menemaniku kini. Pasrah kunikmati pantai ini, walau sunyi tak kudapati jua. Ada saja orang yang lewat didekatku. Melirik keheranan sebentar kemudian pergi lagi. Aku seperti sendiri, tapi aku tidak sendiri.

Suatu ketika aku pernah berandai-andai. Aku ingin jadi astronot yang tinggal di stasiun luar angkasa untuk jangka waktu yang tak kuketahui. Berteman bintang dan planet-planet. Tapi kemudian kupikirkan lagi. Aku ini sungguh TERLALU. Tinggal bersyukur aja kok susah amat. Padahal untuk bersyukur tidak butuh energy yang melimpah. Hanya butuh keikhlasan dan sedikit sikap positif memahami luka jiwa.

Adzan berkumandang. Kemana lagi ku kan mengadu selain kepadaMu ya Allah. Kebersungkur di hadapanMu, memohon Kau lapangkan dadaku, agar terangkat semua beban yang menghimpitku.

Hari ini tepat 2 tahun umur anakku. Agenda yang biasa orangtua jadwalkan pada umur ini adalah penyapihan dari breastfeeding. Demikian juga dengan aku. Sesungguhnya aku paling takut dengan fase ini. Kasihan membayangkan anakku akan menangis menjerit-jerit karena kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya tanpa tahu apa alasannya. Ketika baru lahir di dunia, ASI adalah keindahan pertama yang dikenalnya. Aku tidak tega merampasnya dari anakku.

Akhirnya aku berniat untuk menyapih anakku dengan tanpa paksaan, tanpa memakaikan pahit-pahitan, lipstik, atau tensoplast, karena benda-benda tersebut menurutku akan melukai hati anakku dan menghapus kenangan indahnya tentang breastfeeding. Aku mencoba untuk mengajak anakku berbicara serius. Aku berbicara dengan tempo yang lambat agar dia bisa mudah menangkap yang aku maksudkan.

“Adek kan sudah ulang tahun kemarin. Adek sudah tiup 2 lilin (anakku sudah bisa berhitung sampai 2). Berarti umur Adek sudah 2 tahun. Kalau sudah berumur 2 tahun berarti Adek sudah besar. Anak yang sudah besar tidak nenen lagi sama mamanya. Adek seharusnya juga sudah tidak nenen lagi,” kataku siang itu. Anakku terlihat mengerti apa yang aku katakan. Kemudian aku melanjutkan,”Kalau begitu, mulai sekarang Adek tidak nenen lagi ya? Adek mau kan?”

Begitu aku mintai persetujuannya untuk berhenti nenen, dia langsung berteriak dan menangis,”Adek gak mau berhenti nenen. Adek masih kecil, masih mau nenen sama mama!”

Perundingan pertamaku gagal total. Ya sudahlah, aku putuskan menunda untuk menyapihnya. Mertuaku sudah mulai menyindirku karena Adek masih nenen juga padahal sudah sebulan lewat semenjak ulangtahun ke-2 nya. Sambil menunggu dia siap disapih, aku terus menerus berusaha membujuknya agar rela disapih. Aku juga rajin memberinya contoh anak-anak disekitarnya yang sudah disapih. Waktu tak jadi masalah bagiku. Toh, sebenarnya berdasarkan ilmu kesehatan dan perenting yang aku pelajari, tidak ada patokan kapan seorang anak harus disapih.

“Nolin (anak tetangga) sudah tidak nenen lagi, Dek”, kataku suatu hari. “Nolin sudah tidak nenen lagi ya, Ma?”, tanyanya memastikan. “Iya, soalnya Nolin sudah berumur 2 tahun”, jawabku menerangkan. Sengaja aku tidak menanyakan kesanggupannya untuk tidak nenen lagi, agar dia tidak merasa aku tekan. Aku ingin dia berpikir sendiri dengan melihat contoh-contoh anak lain yang rajin aku ceritakan sehingga aku harap akan tumbuh kemauannya sendiri untuk berhenti nenen.

Sambil terus memberikan ajakan persuasif, perlahan-lahan aku mulai mengurangi intensitas nenennya. Bila biasanya sehari 8 kali nenen, aku kurangi menjadi 6 kali, dan seterusnya menjadi 4 kali saja. Aku juga berusaha menyibukkan dia dengan beragam permainan agar tidak ingat untuk nenen. Sebelum jam-jam biasa dia nagih nenen aku mengantisipasinya dengan memberinya susu memakai sedotan. Aku memang tidak mengenalkan dot sama sekali kepada anakku karena banyaknya kerugian pemakaian dot.

3 Bulan sudah aku berusaha membujuknya. Hingga suatu malam, anakku tidak mau mengambil baju tidurnya sendiri. Setiap akan tidur anakku terbiasa berganti baju tidur yang diambil dan dipilihnya sendiri. Malam itu anakku memintaku untuk mengambilkan baju tidur untuknya. Terbetik dalam pikiranku,”Wah, kesempatan bagus nih untuk menaikkan posisi tawarku.” Aku mulai mengajukan penawaran kepada anakku,”Mama yang ambil baju Adek, tapi Adek bobonya nggak sambil nenen ya?”. Dengan mantap dan tanpa pikir panjang dia menganggukkan kepala tanda setuju. Dalam hati sebenarnya aku ragu dengan kesanggupan dia menepati kesepakatannya, karena anakku biasanya sangat tidak konsisten. Tapi aku bertekad untuk memegang teguh kesepakatan, sekalian mengajarinya menanggung resiko akan keputusannya sendiri.

Untuk pertama kalinya dalam hidup anakku dia tidur tidak sambil nenen. Aku senang sekali. Anakku juga tidak menangis atau protes ketika aku tolak permintaan nenennya dengan mengingatkannya kesepakatan yang telah dibuat bersama tadi. Anakku hanya minta tidur sambil dipeluk saja. “Ah, ini adalah awal yang bagus untuk menyapihnya,”pikirku kemudian.

Malam berikutnya kembali anakku memilih tidak mengambil sendiri baju tidurnya dengan resiko tidur tanpa nenen. Tak mengapalah sekarang aku yang bertugas mengambilkan baju tidurnya. Nanti pelan-pelan, kalau proses penyapihannya sudah sukses, aku akan ajarkan lagi untuk mengambil baju tidurnya sendiri.

Semenjak malam itu, aku terus berusaha mengurangi intensitas nenen anakku di siang hari, hingga akhirnya sama sekali tidak nenen di siang hari. Bila dia terbangun malam, tanpa sadar dia masih suka mencari nenen mamanya. Untuk itu, aku juga berusaha menahan selama mungkin untuk tidak terburu-buru memberinya nenen bila dia terbangun. Lama kelamaan aku sama sekali tidak memberinya nenen lagi dimalam hari. Sebagai gantinya aku harus terus memeluknya sepanjang malam. Kupikir ini lebih baik walau bikin pegel juga. Tidur anakku memang jadi sedikit gelisah, tapi dia tidak menangis dan tidak sampai terjaga.

Setelah malam kesembilan semenjak anakku tidur tanpa nenen, akhirnya anakku memutuskan sendiri untuk berhenti nenen. Dia berkata kepadaku,”Mama, Adek sudah besar, Adek tidak mau nenen lagi.” Itulah kata-kata terindah yang pernah aku dengan sepanjang hidupku. Alhamdulillah, ya Allah. Aku bangga sekali dengan gadis kecilku ini. Sebenarnya ketika anakku menyatakan kalimat ini, dia sudah sama sekali tidak nenen selama 2 hari. Tapi mungkin dia baru menyadarinya sehingga dia terlambat mengungkapkan keputusannya itu. Hal yang paling menakutkan bagiku dalam parenting telah aku lewati tanpa tangisan, tanpa protes, dan tanpa teriakan marah-marah anakku. Aku bisa menyapihnya dengan damai sehingga tidak meninggalkan trauma baginya. Aku banyak mengambil pelajaran dari proses ini. Ternyata anak kecil itu bisa diajak berunding, bisa diajak bicara serius, dan bisa mengerti apa yang kita maksudkan. Oleh karenanya aku menjadi semakin berhati-hati dalam mendidik anakku, agar dia tidak merasa aku jajah dan aku tindas.

Pagi yang cerah, 16 Juni 2004 kala itu. Hari yang telah lama aku tunggu-tunggupun akhirnya tiba. Mulas diperutku adalah pertanda bagus bahwa penderitaan kehamilanku akan segera berakhir. Pukul 14.30 atas rahmat Tuhan yang Maha Kuasa lahirlah anak pertamaku. Perempuan dengan berat 3 kg dan panjang 52cm yang kuberi nama Nafisa Kalkarenita.

 

Hari-hari kulalui untuk merawat bayi mungilku dengan penuh kasih. Sampai pada umur 10 bulan ketika Nafisaku mulai bermasalah dengan kesehatannya. Siang itu ketika Nafisa sedang asyik bermain di teras rumah, pembantu berteriak memanggilku. “Ibu, dicelana Nafisa ada darah!”, katanya dengan wajah cemas. Kuperiksa celana anakku untuk memastikan perkataannya. Dan benar, terdapat setetes darah di celana anakku. Sorenya aku bawa anakku ke dokter umum di dekat rumah. Karena noda darah tidak terlihat jelas, beliau hanya menyimpulkan itu hanya kotoran saja. Aku pulang dengan hati lega.

 

Keesokan paginya kembali kutemukan noda darah itu. Kali ini sudah lebih jelas daripada kemarin, sehingga aku benar-benar yakin bahwa anakku mengalami pendarahan.

“Pa, pulang cepat ya!’,kataku pada suamiku.”Kita harus bawa Nafisa ke dokter spesialis anak”. Tanpa banyak pertanyaan suamiku langsung menyetujui permintaanku.

 

Malamnya, sepulang suamiku dari kantor, aku membawa Nafisa ke RS terdekat. Dokterpun memeriksa kondisi umum Nafisa. ”Untuk memastikan asal darah itu, Nafisa harus menjalani tes urin”, kata dokter itu menjelaskan. “Saya belum dapat memberikan treatment apa-apa sebelum tahu pasti asal darah tersebut, apakah dari vagina atau dari  lubang pipis.

 

Keesokannya akupun kembali ke bagian laboratorium RS tersebut untuk menyerahkan sample urin Nafisa. Pikiranku agak kacau karena bagaimanapun pendarahan bukanlah gejala yang wajar untuk anak seumur Nafisa. Hasil pemerikasaan urin baru bisa aku dapatkan keesokan harinya. Pagi-pagi aku sudah tiba di laboratorium rumah sakit tersebut. Setelah mendapatkan hasil pemerikasaan urin kemudian aku membuat janji dengan dokter anak untuk mengkonsultasikan hasil pemeriksaan tersebut pada sore hari nanti.

 

“Saya tidak dapat menyimpulkan banyak hal dari hasil lab ini. Dari sini hanya bisa kita dapatkan bahwa tidak ada infeksi bakteri dan tidak ada kristal dalam urinnya. Kita masih belum tahu darimana asal darah tersebut. Untuk lebih jelasnya saya sarankan untuk melakukan USG pada abdomen bawah Nafisa”, demikian Bu dokter menjelaskan kepada kami. Pernyataan dokter tersebut membuatku semakin mengkhawatirkan penyakit Nafisa. Tanpa berpikir dua kali saya langsung menyetujui saran dokter tersebut, karena toh USG hanya menggunakan gelombang suara sehingga tidak memiliki efek samping untuk anakku. Saat itu juga aku membawa anakku ke ruang USG di rumah sakit tersebut.

 

Treatment USG cukup membuat anakku stress dan menjerit-jerit ketakutan. Kutabahkan hati mendengar tangisan dan jeritannya karena memang tahap inilah yang harus dilaluinya untuk mengetahui penyakitnya. Kulihat ada ekspresi terkejut pada wajah dokter itu. Kemudian beliau berkata,”Ukuran rahim terlalu besar untuk usianya. Saya mencurigai ada tumor disana”. Melongo dan tak dapat berkata-kata apa aku mendengar ucapan dokter itu. Dokter gila darimana ini yang tiba-tiba menyatakan anakku kemungkinan memiliki tumor di rahimnya. Setelah sejenak terdiam dokter itu melanjutkan,”Untuk lebih pasti apa sesungguhnya yang terdapat di dalam sana, sebaiknya dilakukan CT-scan”. Tak dapat saya pungkiri, hati saya sedih sekali dan juga bingung saat itu. CT-Scan untuk anak seumur Nafisa bukan treatment yang aman karena CT-Scan menggunakan radiasi yang bisa berdampak buruk pada sel-sel muda tubuhnya. Tetapi aku juga tidak dapat mengabaikan kenyataan bahwa dengan USG kami belum mendapat kesimpulan apa-apa tentang penyakit Nafisa.

 

Setelah kupikir panjang lebar, akhirnya aku memutuskan untuk mencoba mencari second opinion dari dokter lain. Keesokan harinya kami pergi dokter di rumah sakit lain yang menurut kami cukup terpercaya. Setelah menunjukkan hasil USG dari dokter pertama tadi, dokter yang kelihatannya sudah cukup senior tersebut berkomentar, “Kalau yang yang jadi masalah adalah  kandung kemih, tidak dapat dicari melalui USG, sulit dilihat karena posisinya ada di belakang. Menurut saya, pendarahan pada anakmu ini pendarahan yang wajar karena infeksi saluran kemih saja. Nanti saya resepkan antibiotik. Tidak usah khawatir”.

 

Lega hati saya mendengar perkataan dokter tersebut. Sepulang dari Runah Sakit di pusat kota Jakarta tersebut, kami mampir sebentar di rumah saudara kami yang tinggal tidak jauh dari Rumah Sakit tersebut. Karena sudah lebih dari 6 jam, aku berencana untuk mengganti diaper Nafisa. Betapa terkejutnya aku melihat diaper anakku sudah penuh dengan darah. Dia mengalami pendarahan yang hebat. Pantas saja Nafisa tadi terus tertidur selama perjalanan dan juga bibirnya membiru selama di rumah sakit.

 

Dengan panik aku langsung membawa Nafisa ke UGD rumah sakit yang terdekat dengan rumah saudaraku itu. Rumah sakit ketiga yang aku masuki dalam rangka mencari tahu penyakit anakku. Kami diterima oleh seorang dokter muda yang bertugas menjaga UGD tersebut. Dia kemudian membersihkan darah pada kemaluan anakku untuk mengetahui darimana darah tersebut  berasal. Ternyata darah tersebut berasal dari vagina anakku. Dokter tersebut kemudian menyarankanku untuk rawat inap. Untunglah semua biaya pengobatan anakku mendapat pengantian dari kantor tempat suamiku bekerja.

 

Setelah menempati kamar kelas VIP pada rumah sakit tersebut, kami dibawa oleh suster menemui dokter kandungan. Reaksi pertama dokter kandungan tersebut adalah bengong, menyadari bahwa pasiennya kali ini adalah bayi berumur 10 bulan. Setelah dia memeriksa sebentar kemudian dia menyarankan Nafisa untuk menjalani CT-Scan sambil berkomentar,”Selama 20 th saya menjadi dokter kandungan, baru kali ini saya memiliki pasien berumur 10 bulan.” Komentar yang tidak menenangkan bagiku sebagai ibu dari pasiennya itu. Kali ini aku tidak berpikir panjang untuk menyetujui permintaan dokter tersebut untuk melakukan CT-Scan. Firasatku, penyakit Nafisa ini sepertinya dekat dengan kematian. Apalah artinya mutasi sel oleh radiasi CT-Scan dibandingkan nyawa anakku yang terancam.

Harapanku akan ringannya penyakit Nafisa terbang sudah. Dokter menyampaikan bahwa memang ada benjolan pada rahim Nafisa, dan benjolan tersebut cukup besar yang berarti benjolan tersebut aktif. Solusinya hanya satu yaitu operasi. Runtuh langit di kamar rawat inap rumah sakit itu terasa olehku. Anak sekecil itu harus menjalani operasi besar mengangkat benjolan di rahim. Oh, Tuhan. Salah apa aku ini! Secara medis jalan satu-satunya memang hanyalah operasi. Tetapi aku mencoba bertanya pada ahli pengobatan alternatif untuk mencari penyelesaian masalah anakku ini. Dan sang ahli itupun berkata,”kalau untuk anak umur segitu benjolan akan tumbuh lebih cepat daripada orang dewasa karena bayi memiliki sel-sel muda yang masih aktif tumbuh. Sedangkan pada sel dewasa tidak terdapat lagi pertumbuhan. Demikian juga dengan benjolannya. Oleh karena itu, benjolan tersebut membutuhkan penyelesaian secara cepat, yaitu operasi. Pengobatan alternatif bersifat pelan dan lama, tidak akan bisa mengejar pertumbuhan benjolan tersebut.”

 

Pasrah, akhirnya menjadi jalan keluar bagiku saat itu. Berdoa dan terus berdoa memohon keselamatan dan kesembuhan untuk anakku. Ternyata tidak cukup sampai disitu Tuhan menguji imanku. Operasi anakku berjalan lancar walaupun terpaksa rahim anakku tidak dapat diselamatkan. Hidup tanpa memiliki rahim, itulah kenyataan yang harus Nafisa hadapi di masa depan nanti. Itupun bila masa depan itu memang masih sabar menunggunya. Dari laporan hispatologi sayatan benjolan yang diambil dari rahim Nafisa menyataan bahwa benjolan tersebut bersifat ganas alias kanker. Kesimpulan ini didukung pula oleh hasil tes AFP (penanda tumor) pada darah anakku yang menunjukkan angka 9500, dimana seharusnya nilainya tidak lebih besar dari 10.

 

Rasa kepercayaanku kepada Tuhan menjadi sedikit goyah. Aku tak mengerti kenapa Dia memilihku untuk menghadapi masalah ini. Aku bukan Nabi yang dikarunia ketabahan tingkat tinggi menghadapi cobaan-cobaanMu. Aku juga bukan sahabat Nabi yang memiliki kayakinan yang teguh tentangMu. Bahkan aku bukan pula orang bijak yang pandai mengambil hikmah dari peristiwa-peristiwa. Aku hanya manusia biasa dengan tingkat ketuhanan yang biasa-biasa saja. Kenyataan yang menimpaku ini benar-benar membuat hatiku hancur. Penyakit yang hanya terdapat pada 1 berbanding 1000 anak manusia terjadi pada anakku.

 

Anak hanyalah titipan Tuhan. Kita hanya bertugas merawat dan mengasuhnya dengan baik. Namanya juga titipan,setiap saat Sang Empunya Jiwa boleh mengambilnya. Dengan ataupun tanpa persetujuan kita, Tuhan akan mengambilnya bila memang Dia berkehendak demikian. Pikiran positif inilah yang terus menerus aku camkan dalam benakku. Mati satu tumbuh seribu adalah mottoku. Bukannya aku ingin menggganti Nafisa dengan anak-anak yang akan kulahirkan berikutnya, aku hanya berusaha bertahan. Lagipula Nafisa adalah Nafisa, tidak akan tergantikan oleh apapun dan siapapun.

 

Kemoterapi adalah metode pengobatan yang disarankan oleh para ahli medis. Bukan hal yang mudah bagiku untuk memutuskan memilih kemoterapi sebagai jalan keluar penyakit anakku. Kemoterapi adalah pengobatan yang penuh derita dan sengsara. Pasien yang menjalani kemoterapi umunya akan merasa mual, pusing dan muntah sepanjang pengobatan. Rambut akan rontok, kulit menghitam, dan nafsu makan berkurang sehingga tubuh menjadi kurus kering. Kucoba kembali menghubungi ahli pengobatan alternatif untuk mendapat kesempatan selain kemoterapi. Komentar ahli pengobatan alternatif itu tidak mendukungku untuk memilih jalan lain selain kemoterapi. “Bila ibu punya biaya cukup, sebaiknya jalani saya kemoterapinya, karena sejauh ini itulah pengobatan paling rasional yang bisa diberikan untuk penderita kanker. Memang ada beberapa pasien yang sembuh dengan pengobatan alternatif, tetapi tidak semua pasien cocok dengan pengobatan alternatif. Sedangkan kemoterapi sudah terbukti secara statistik berhasil menyembuhkan penyakit kanker sebanyak 85 %.

 

Akhirnya kuputuskan untuk mengambil kesempatan 85% tersebut. Setelah mengumpulkan informasi dari sana-sini akhirnya aku menemukan dokter anak yang ahli di urusan kanker anak. Ketika aku bertemu dengan beliau sudah 2 minggu berselang sejak kepulangan Nafisa dari rumah sakit tempat dia menjalani operasi. Darah sudah kembali mengucur dari vaginanya. Itu artinya kankernya sudah mulai berulah lagi. Tanpa pikir panjang aku segara mendaftar untuk rawat inap di rumah sakit negeri yang sudah tua umurnya, tempat dokter ahli tersebut berpraktek.

 

Keesokan harinya, kemoterapi untuk Nafisapun dimulai. Ternyata banyak sekali anak-anak yang menderita sakit kanker di rumah sakit tersebut. Umumnya mereka menderita kanker darah atau leukimia. Selain Nafisa, kanker pada organ reproduksi diderita oleh 2 anak laki-laki lain yang juga sedang rawat inap di rumah sakit tersebut ketika itu. Hal ini sedikit menenangkanku karena aku merasa tidak sendiri menghadapi cobaan ini. Ternyata banyak juga orangtua-orangtua lain yang anaknya menderita penyakit yang penyebabnya sampai saat ini tetap menjadi rahasia Tuhan. Tidak seperti penyakit kanker pada orang dewasa yang biasanya menjadikan pola makan sebagai penyebab utama, kanker pada anak tidak dapat menjadikan pola makan sebagai kambing hitam. Nafisa baru berumur 10 bulan ketika ketahuan terkena penyakit kanker, sedangkan 6 bulan pertama dalam hidupnya ASI Eksklusif. Melihat ukuran kankernya yang sudah sebesar bola tenis dan sudah menjalar sampai usus buntu, tentunya kanker ini mengawali kehadirannya dalam tubuh Nafisa jauh sebelum waktu terdeteksinya kehadirannya.

 

Kita khawatir dan cemas akan sesuatu karena kita tidak memiliki pengetahuan tentang hal tersebut. Berpegang pada ide itu maka aku berusaha mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang kanker dan kemoterapi. Melalui buku, tulisan, tanya kanan kiri, akhrnya aku menjadi sedikit lebih tegar menghadapi kondisi kesehatan anakku yang naik turun karena kanker.

 

Mual, muntah, panas tinggi sampai kejang, dan rewel terus menerus sudah menjadi pemandangan yang biasa kutemui setiap hari di kamar rawat inap rumahsakit ini. Hal ini terjadi juga terhadap Nafisa. 3 bulan anakku harus menjalani kemoterapi dosis tinggi, setelah itu dilanjutkan dengan maintenance sebulan sekali selama 2 tahun.

 

Tawakal, pasrah, ikhlash, dan percaya Tuhan akan memberiku yang terbaik selalu kucoba tanamkan dalam-dalam di hatiku. Tak terasa masa-masa sulit itu sudah kulalaui. Sekarang Nafisa sudah berumur 4 tahun. Hasil CT-Scan dan tes AFP sudah menunjukkan bahwa kanker anakku sementara tidak aktif. Dokter tidak dapat memastikan apakah kanker tersebut sudah mati atau hanya dormant saja. 10 tahun setelah kemoterapi selesai baru bisa dipastikan apakah kanker pada tubuh Nafisa masih hidup atau telah mati.

 

Dengan penuh tanda tanya akan ketidakpastian umur anakku, aku mencoba memberikan kehidupan senormal mungkin padanya. Walaupun pengobatan kemoterapi sedikit banyak pastilah memberikan trauma kepadanya. Toh, setiap jiwa akan kembali kepada pemilikya, baik itu penderita kanker atau bukan. Hanya masalah waktu.

 

Terimakasih yang tak terhingga saya sampaikan kepada dokter-dokter yang melalui tangan mereka Tuhan telah memperpanjang umur Nafisa.

Berdasarkan urutan pertemuan:

Dr Evita KB Ifran

Dr UGD RSPP yang saya tidak tahu namanya

Dr Zulkarnaen H

Dr Ali Umar Achmad

Dr Mulyono

Dr Hermawan

Dr Djajadiman Gatot

Serta para suster dan dokter pembantu lain yang tidak dapat saya sebut satu persatu.

 

Kita sering mendengar pepatah “Setali tiga uang”. Pepatah ini biasanya dihubungkan dengan sifat bawaan anak yang tidak beda jauh dari sifat orangtuanya. Bagaimana sebuah sifat fisik bisa menurun dalam keluarga dijelaskan oleh ilmu biologi, bahwa sifat genetik dibawa oleh gen didalam setiap sel ditubuh kita. Informasi lengkap dan detil tentang fisik kita terkandung dalam rangkaian DNA(Deoxiribo Nucleid Acid). Tetapi apakah karakter juga diturunkan melalui genetik?

 

Sifat bawaan anak sejak lahir kita kenal sebagai Nature sedangkan sifat anak yang terjadi akibat pengaruh lingkungan kita kenal sebagai Nurture. Kedua hal ini berpengaruh dengan seimbang pada anak.

 

Semenjak di dalam kandungan, janin dapat merasakan dan mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya. Kondisi emosi ibu dan lingkungannya mempengaruhi pembentukan karakter dasar si anak. Hal ini terjadi karena perubahan emosi merangsang sejenis zat kimia berupa hormon atau enzim yang kemudian dialirkan keseluruh tubuh melalui darah sehingga akhirnya berpengaruh terhadap janin. Selain itu kemarahan, kegembiraan, dan suara-suara disekeliling janin juga sangat berpengaruh pada sifat anak ketika besar nanti.

 

Memilih pola pengasuhan anak harus memperhatikan dan mempertimbangkan karakter bawaan anak tersebut. Kita harus cermati apakah anak kita termasuk yang bisa duduk diam ataukah yang senang berlari-larian. Harus kita perhatikan juga apakah anak kita lebih suka mendengarkan cerita atau lebih suka membaca dan melihat-lihat gambar. Oleh karena itu, jika kita sudah bisa mendeteksi kecenderungan mereka dalam beraktivitas, hal itu akan sangat membantu kita dalam memilih pola pengasuhan yang cocok untuk mereka.

 

Sedangkan nurture atau pengaruh lingkungan sudah jelas mempengaruhi sifat anak. Ketika seorang anak secara berulang menerima masukan dari lingkungan sekitarnya maka pikiran anak perlahan-lahan akan beradaptasi dan membentuk sebuah sistem nilai. Beberapa sistem nilai terbentuk untuk skema pertahanan diri, sebuah mekanisme untuk bertahan terhadap segala sesuatu di luar dirinya yang dianggap sebagai ancaman. Seringkali hal ini bersifat refleks sehingga anak tidak menyadari perubahannya. Tidak hanya komunikasi verbal yang mempengaruhi perilaku anak tetapi juga komunikasi non verbal seperti misalnya bahasa tubuh orangtua, ekspresi wajah, musik yang didengar, dan adegan-adegan di televisi.

 

Berdasarkan penelitian, sifat seseorang sebenarnya selalu berubah dari waktu ke waktu. Jadi bila kita ingin merubah perilaku anak hal pertama yang harus kita cermati adalah cara kita mendidik dan menyampaikan sesuatu kepada anak. Terkadang bukan si anak yang tidak mau berubah tetapi karena data pengalaman dan nilai yang masih terbatas membuat anak salah mengambil keputusan. Misalnya anak mungkin berpikir main playstation lebih menyenangkan daripada membersihkan kamar. Untuk itulah pola pengasuhan anak dengan sistem tekanan dan ancaman menjadi tidak efektif lagi.

 

 

Mendidik anak sebenarnya tak sesulit yang kita bayangkan, namun juga tak semudah membalikkan telapak tangan. Satu hal yang membuat pendidikan menjadi mudah, karena kunci utamanya ternyata hanyalah keteladanan; namun hal itu menjadi sulit, karena menjadi teladan berarti berjuang untuk mengubah kebiasaan.

Ingin anak-anak suka membaca, maka rajinlah membaca; ingin anak-anak suka mengaji, maka rajinlah mengaji; ingin anak-anak bersikap lemah lembut, jadilah orang yang lembut; ingin anak-anak bersikap sabar, maka jadilah seorang penyabar. Semua berawal dari contoh, semua berawal dari kebiasaan orang tua.

Sangat-sangat mengkhawatirkan moral anak-anak kita jika sebagai orang tua, kita tak mampu memberikan teladan yang baik. Rumah adalah pintu pertama bagi seorang anak untuk mengenal kehidupan. Jika rumah tak bisa menjadi miniatur masyarakat yang baik, maka apa jadinya anak-anak kita jika mereka berada di luar rumah, yang juga semakin “tak ramah” sebagai sebuah lingkungan pendidikan.

Selain itu hal penting lain dalam mendidik anak adalah persepsi kita terhadap anak-anak. Persepsi kita terhadap anak-anak berpengaruh terhadap cara kita memperlakukan mereka dan cara kita berbicara atau bersikap terhadap mereka, dan hal itu pun akan menular pada anak-anak tanpa kita sadari.

Bayangkan ketika kita sedang merasa kesal pada anak-anak saat mereka membuat gaduh. Wajah kita berubah kusut, suara kita menjadi sedikit tegang, dan mungkin meledak jika tak sempat terkontrol. Lalu apa yang mungkin dipikirkan anak-anak tentang kita dengan sikap tersebut? Yakinlah mereka pun akan merasakan ketidaknyamanan itu secara otomatis.

Pikiran adalah kekuatan paling dahsyat. Begitu pula dalam dunia anak. Segala bentuk pikiran yang terlintas dalam pikiran mereka setiap hari akan mempengaruhi semua aspek kehidupan mereka. Sikap, pilihan, kepribadian dan siapa mereka sebagai individu, adalah produk dari pikiran-pikiran tersebut.
Untuk itu kita sebagai orang harus pandai memilih kata dan ekspresi yang tepat agar berpengaruh baik terhadap anak-anak.

Seorang ahli pendidikan bertanya kepada beberapa orang ibu, “Misalkan suatu pagi Anda sedang menyiapkan roti bakar untuk sarapan suami anda, tiba-tiba telepon berdering, anak menangis, dan roti bakar menjadi hangus. Lalu suami anda berkomentar,”Kapan kamu belajar memanggang roti tanpa menghanguskannya?” Bagaimana reaksi Anda” Ibu itu menjawab,”saya rasa saya akan menangis dan kecewa”  Ibu yang lain menjawab,”Langsung saya lempar roti itu kepadanya”.

Kemudian ahli pendidikan itu melanjutkan pertanyaannya,”Katakanlah bahwa roti itu memang hangus, tetapi suami anda mengatakan kepada Anda,”Tampaknya kamu lelah ya pagi ini?” Bagaimana reaksi Anda?” Beberapa orang ibu itu menjawab serempak,”Saya akan merasa senang dan bahagia”.

Ahli pendidikan itu melanjutkan, “Seandainya suami anda berkata,”Ayo, saya ajari kamu membakar roti” Apa reaksi anda?” Ibu-ibu itu menjawab,”Saya tidak akan suka dengan reaksi suami saya itu karena itu berarti ia menganggap saya bodoh.”

Ahli pendidikan itu melanjutkan,”Bagaimana kalau yang dilakukan oleh suami anda itu anda lakukan kepada anak anda?”

Sekarang kita mengerti bahwa anak-anak kita tidak suka dengan kritik yang tidak pada tempatnya dan terus diulang-ulang atau bila kita terlalu mendikte mereka seolah mereka adalah makhluk terdungu di dunia.

Apapun kondisi Nature dan Nurture seorang anak yang dibutuhkan seorang anak diatas segalanya adalah pengertian dan empati.

Perjalanan Cinta Meutia

Usianya masih belia, ketika Meutia memilih kuliah di kota yang jauh dari tempatnya dilahirkan dan dibesarkan, 18 tahun lebih 1 bulan. 3 hari perjalanan dengan menggunakan bis ditempuh Meutia untuk meraih cita-citanya. Entah cita-cita yang tumbuh dari benak Meutia sendiri ataukah cita-cita yang ditanamkan oleh kakaknya yang ambisius. Yang pasti, terwujudlah kenyataan bahwa sekarang Meutia telah menjadi 10% putra putri terbaik bangsa. Begitu jargon yang tertulis pada spanduk di pintu gerbang Perguruan Tinggi tersebut.

 

Gegar budaya, itulah yang terjadi pada Meutia ketika baru menjadi penduduk kota tersebut. Hingar bingar kota dan beragam karakter kawan mahasiswanya membuat bingung gadis kampung itu. Bahasa nasional yang jarang digunakannya sewaktu masih tinggal desa harus pula dia biasakan untuk menjembatani komunikasi dengan mahasiswa dari daerah lain. Banyak penyesuaian lain yang harus Meutia lakukan agar dapat bertahan di kota besar tersebut.

 

Hari demi hari berlalu. Menjadi mahasiswa yang baik, itulah yang tengah dijalani oleh Meutia saat ini. Suatu saat, disebuah pagi yang indah, Meutia berkenalan dengan seorang lelaki, sebutlah lelaki pertama. Tak pelak, api cinta mulai tersulut dihati Meutia. Seorang mahasiswa jurusan Teknik Elektro yang pintar, baik hati, dan suka melakukan kegiatan sosial telah berhasil memikat hati Meutia. Gambaran masa depan yang nyaman secara materi terus menerus dijadikan alat oleh laki-laki itu untuk menggapai hati Meutia. Berasal dari keluarga berekonomi pas-pasan membuat Meutia semakin tergiur dengan bujuk rayu laki-laki itu. Akhirnya merekapun berteman akrab. Dan gosippun mulai beredar di kalangan teman-teman mereka. 3 bulan setelah mengakrabi Meutia, laki-laki itupun meminta Meutia untuk menjadi pendampingnya menjalani hidup. Ini adalah kali pertama dalam hidup Meutia mendapatkan ungkapan perasaan sayang dari lelaki. Meutia terus berpikir dan menimbang. Seminggu setelah tawaran lelaki itu, Meutiapun memberikan jawaban,”Maaf, aku masih ingin sendiri.”

 

Meutia tidak suka cara laki-laki itu mendekatinya yang terlalu berorientasi pada materi. “Apakah materi yang akan membuatku bahagia kelak?” kata Meutia dalam kebimbangannya. “Materi tidak berarti segalanya,” kata Meutia menyimpulkan.

 

Beberapa bulan kemudian, datanglah laki-laki lain dalam hidup Meutia. Seorang laki-laki yang penuh kharisma telah memukau Meutia dalam acara penerimaan mahasiswa baru di sebuah organisasi kemahasiswaan di kampusnya. Seorang pemimpin yang baik dan penuh perhatian, walaupun bukan berasal dari jurusan dengan passing grade yang tinggi. Menjalani hari-hari bersama dengan lelaki kedua ini cukup menyenangkan bagi Meutia. Selain karena perhatiannya yang besar, lelaki kedua ini juga pandai memaknai hidup. Selang beberapa minggu pendekatan, akhirnya lelaki kedua ini juga membuat pernyataan suka pada Meutia. Tidak mudah bagi Meutia untuk berkata ya atau tidak. “Lelaki ini terlihat sempurna, tetapi sepertinya masih ada hal yang kurang berkenan untuk memberinya posisi yang istimewa dihatiku,” kata Meutia dalam hati.

 

5 hari menimbang, akhirnya Meutia memutuskan untuk berkata, “Maaf, aku masih ingin sendiri.” Kharisma dan perhatian yang besar terhadap orang sekitarlah yang membuat Meutia mundur dari berkomitmen dengan lelaki kedua ini. “Kebanyakan penggemar,” demikian ungkap Meutia pada teman sekamarnya ketika temannya memprotes keputusannya.

 

Bumi terus berputar, menciptakan siang dan malam bagi penghuninya. Lelaki ketiga yang masuk dalam kehidupan Meutia adalah seorang pencinta filsafat dan sastra. Baik dan bermasa depan cerah, demikian kira-kira gambaran Meutia tentang lelaki ketiga ini. Dari buku filsafat yang satu ke buku filsafat yang lain, dari buku sastra yang satu ke buku sastra yang lain adalah hal rutin yang diperbincangkan Meutia dengan lelaki ketiga ini.

 

Filsafat dan sastra bukan barang aneh dalam hidup Meutia. Sejak SMU Meutia telah akrab dengan dunia yang diperkenalkan oleh kakaknya ini. Bertemu dengan lelaki ketiga ini tentu saja membuat Meutia girang. Dia merasa ada seseorang yang bisa mengerti gejolak pemikirannya. Di perguruan tinggi yang sangat teknikal ini sangat jarang dijumpai ada mahasiswa yang tertarik dengan filsafat dan sastra. Kesendirian Meutia dalam dunia filsafat dan sastra ini akhirnya terpecahkan juga.

 

Karena kecocokan pemikiran dan cara pandang, pada suatu senja yang gerimis, lelaki ketiga ini mengungkapkan perasaannya kepada Meutia. Meutia senang bukan kepalang. Akhirnya ditemukannya sang belahan jiwa. Tetapi kemudian Meutia tersadar. Berkomitmen sebagai pacar sangat berbeda dengan berbeda dengan berkomitmen sebagai sahabat. Dalam berpacaran ada pilihan-pilihan hidup yang harus disepakati bersama, sedangkan persahabatan tetap bisa terjalin walaupun pilihan hidupnya berbeda. Inilah yang membuat Meutia kembali berkata,”Maaf, aku masih ingin sendiri”.

 

Meutia tidak siap berbagi pilihan hidup dengan lelaki ketiga ini. Karena seorang pencinta filsafat dan sastra seringkali kurang logis dan rasional dalam membuat keputusan serta seringkali membenarkan keegoisannya dengan berbagai dalih filosofis. Demikianlah persepsi Meutia tentang seorang pencinta filsafat dan sastra.

 

Kematangan usia dan kedewasaan berpikir membuat Meutia semakin selektif terhadap lawan jenis yang merayunya. Kecantikan wajah dan hati Meutia membuat banyak lelaki berusaha untuk meraih hatinya. Meutia tidak mau terjebak dalam cinta semu jalanan yang picisan dan tidak tulus.

 

Selang beberapa bulan, seorang lelaki satu jurusan yang pragmatis menghampiri hidup Meutia. Lelaki keempat yang biasa saja, wajar, dan sangat umum. Hidupnya tanpa gejolak, tanpa pemaknaan, dan tanpa nafas pemberontakan ataupun perlawanan. Lelaki yang mengalir mengikuti arus begitu saja. Tipe lelaki yang sangat banyak dijumpai dikampus Meutia. Obrolan demi obrolan tentang pelajaran kuliah memenuhi ruang dan waktu mereka berdua. Secara akademis, Meutia banyak terbantu oleh kehadiran lelaki keempat ini. Seperti lelaki-lelaki lain yang pernah hadir dalam hidup Meutia, lelaki keempat inipun akhirnya menyatakan cinta kepada Meutia. Setelah berpikir sejenak, Meutia berkata kepada lelaki keempat tersebut, “ Maaf, aku masih ingin sendiri,” untuk yang kesekian kalinya. Meutia tidak sanggup menghabiskan sisa hidupnya dengan lelaki yang sangat dangkal ini. Kemapanan sosial dan ekonomi mungkin memang akan Meutia dapatkan di kemudian hari, tetapi pemenuhan kebutuhan ruh Meutia tidak bisa diperolehnya dari lelaki keempat ini.  “Membosankan,” demikian komentar Meutia tentang lelaki keempat ini.

 

Waktu menggelinding tak berasa. Tahun ke-3 telah Meutia lewati di Perguruan Tinggi ini. Sekarang adalah saatnya Meutia mulai menyusun skripsi sebagai syarat kelulusan di Perguruan Tinggi ini. Dan inilah lelaki terakhir dalam perjalanan cinta Meutia di kampus terbaik di negeri ini. Seorang lelaki yang sebenarnya tidak ada istimewanya dibandingkan lelaki-lelaki lain yang pernah singgah dalam kisah cintanya. Lelaki kelima ini berkarakter cuek, pendiam, dan introvert. Tidak romantis dan tidak sastrais juga menjadi bagian dari diri lelaki kelima ini. Pertemuan dengan lelaki kelima ini belum cukup intens, ketika tiba-tiba lelaki kelima ini meminta Meutia untuk berbagi hidup dengannya. Terkejut dan heran adalah reaksi Meutia mendengar permintaan lelaki kelima ini. “Cowok yang aneh,” ujar Meutia dalam hati. Meutia meminta waktu 1 bulan untuk memikirkan jawaban permintaannya tersebut. Meutia berdalih bahwa dia belum kenal dekat dengan lelaki kelima ini. Setelah 1 bulan berjibaku dengan lelaki kelima ini, Meutia mulai bisa mengambil kesimpulan. Meutia merasa cukup nyaman disamping lelaki ini karena inilah pertama kalinya Meutia merasa diterima apa adanya. Meutia menilai lelaki kelima ini juga cukup bertanggungjawab terhadap hidupnya.

 

Dunia filsafat dan sastra memang sangat jauh dari lelaki kelima ini. Walaupun begitu lelaki ini cukup mampu mengambil hikmah dalam hidup. Tetapi kemudian pergolakan jiwa Meutia kembali menuntut sebuah jawaban filosofis dari arti berkomitmen. “Apakah aku memang butuh berkomitmen? Untuk apa? Sedang selama bertahun-tahun aku hidup sendiri dan tidak pernah merasa kesepian. Apakah berkomitmen akan membuatku menjadi manusia yang lebih baik?”, tanya Meutia kepada dirinya sendiri. “Seberapa butuhkah aku akan cinta dan kasih sayang manusia? Sedangkan Allah setiap hari selalu memandikan aku dengan cinta dan kasihNya.”

 

Dan tepat 1 bulan semenjak lelaki kelima itu memintanya untuk menjadi kekasihnya, Meutiapun memutuskan, “Maaf, aku masih bisa sendiri”, tanpa ragu-ragu.

 

Dalam sebuah buku yang sedang dibacanya, Meutia menemukan cerita ini:

 

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya?”
Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting.Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”.
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengantangankosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”
Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat aku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”
Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”.

 

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”
Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana.
Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”.

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?”
Plato pun menjawab, “Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”
Gurunya pun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”.

Aku Suka Kamu

Seperti hari yang lain, aku menunggumu di depan gerbang sekolah pagi ini. Sudah hampir pukul 7 pagi, tapi kamu belum muncul juga. Beberapa hari ini kuperhatikan kamu sering terlambat datang ke sekolah. Aha…itu dia mobil kamu mulai memasuki jalan depan sekolah. Kamu berlari-lari takut pintu gerbang keburu ditutup oleh Pak Parto. Tak sempat kau sapa aku, karena dengan buru-buru kamu sudah duduk di dalam kelasmu. Rupanya kamu belum mengerjakan PRmu. Dasar kamu memang pemalas. Ya sudahlah, aku bisa mengerti kau cuek padaku hari ini. Mungkin jam istirahat nanti kamu akan lebih ramah kepadaku.

 

Benar juga dugaanku. Jam istirahat kau temui aku di halaman belakang sekolah. Senangnya bisa bercanda bersama kamu… Tak terasa waktu istirahat sudah berakhir. Aku cukup tahu diri untuk tidak mengganggumu pada jam-jam pelajaranmu. Aku hanya sedikit mengeluh, mengapa waktu yang kita miliki untuk bersama ternyata sangat pendek. Aku hanya berharap besok pagi kamu mau datang sedikit lebih awal agar kita sempat bercanda sebelum bel sekolah berbunyi.

 

Pagi ini, kunanti kembali kehadiranmu. Untunglah kau segera muncul tak lama setelah aku datang. Kau belai rambutku dengan penuh sayang, sambil kau ceritakan masalahmu. Rupanya keterlambatanmu akhir-akhir ini karena kamu sering pulang sampai larut malam. Orangtuamu sering bertengkar di rumah. Hal itulah yang mengganggu perasaanmu sehingga kamu memilih menghabiskan waktumu di luar rumah. Aku sangat sedih mendengar ceritamu. Ah, andai saja aku bisa membantu. Bel pun berbunyi. Seakan enggan berpisah denganku, kau langkahkan kakimu memasuki ruang kelasmu. Kulepas kepergianmu dengan pandangan sedih. Segera kuusir perasaan sedih di hatiku. Ah, akupun juga harus melanjtkan aktivitasku hari ini.

 

Seperti biasa, pada jam istirahat siang aku nanti kamu di halaman belakang sekolah. Kali ini aku punya lelucon untuk menghibur kesedihanmu tadi pagi. 10 menit berlalu, dan kamu tidak muncul juga. Aku bimbang untuk menyusulmu ke dalam kelas. Aku takut mengganggu kesibukanmu. Waktu istirahat tinggal 5 menit lagi. Akhirnya kuputuskan untuk mencarimu di kelasmu. Ternyata kamu tak terlihat disana. Aku berputar-putar disekitar kelasmu untuk mencarimu. Aku khawatir sesuatu yang buruk telah terjadi padamu. Tepat ketika bel masuk berbunyi kau muncul dari kelas 1-4. Rupanya dari tadi kau ada disitu. Tanpa sempat menyapaku, kau buru-buru memasuki ruang kelasmu. Ah, merananya diriku. Kau acuhkan aku lagi seperti hari kemarin. Padahal baru tadi pagi kau ceritakan padaku semua keluh kesahmu, seakan tak ada teman lain dalam hidupmu kecuali aku. Tapi sekarang kau acuhkan aku seolah aku ini tidak ada. Kamu menyebalkan sekali hari ini. Besok aku tidak akan menyambutmu lagi, sampai kau minta maaf kepadaku.

 

Keesokan paginya, aku benar-benar tak sudi menunggumu di depan gerbang sekolah. Sambil sembunyi di balik semak-semak, kuperhatikan kau mencari-cari aku. Tak tega aku melihatmu celingukan, akhirnya aku keluar juga. Kau sambut aku dengan hangat. Kau ucapkan ribuan kata maaf karena kemarin tidak menemuiku di halaman belakang sekolah. Tanpa kutanya kaupun langsung bercerita kemana saja kamu kemarin sehingga tidak dapat datang menemuiku. Rupanya kamu sedang jatuh cinta dengan anak kelas 1-4 itu. Tipe cewek seperti itulah yang selama ini kamu idam-idamkan. Dia sanggup memahami perasaanmu dan bisa selalu ada disisimu saat kamu senang maupun susah. Dalam hati aku bergumam,”Jadi kamu pikir apa arti pengorbananku selama ini. Bukankah selama ini aku juga selalu ada disisimu kapanpun kamu butuhkan. Tapi kenapa cewek itu jadi lebih istimewa daripada aku”. Sayang kamu tak dapat mendengar kata hatiku.

 

Kamu juga sekaligus meminta ijin untuk tidak menemuiku pada jam istirahat nanti, karena kamu berniat untuk mengunjungi gadis itu di kelasnya. Ingin rasanya aku marah padamu karena pengakuan jujurmu itu. Api cemburu membakar seluruh tubuhku. Tapi aku tak sanggup memarahimu, karena mencintai siapapun juga adalah hak kamu. Aku hanya menatapmu dengan pandangan yang lebih sedih daripada kemarin ketika kau ceritakan masalah keluargamu kepadaku. Ingin rasanya bel masuk segera berbunyi agar aku dapat menyembunyikan kesedihan ini dari hadapanmu.

 

Jam istirahat siang telah tiba. Dengan tanpa harapan aku tetap datang ke halaman belakang sekolah. Aku berharap kamu berubah pikiran untuk menemuiku dan bukan menemui gadis itu. Ternyata harapanku memang sia-sia belaka. Kau sudah benar-benar terpikat dengan gadis itu. Kuakui, aku ini nggak ada apa-apanya dibanding gadis itu. Sudahlah, mungkin ini memang nasibku.

 

Pagi ini kembali aku menunggumu. Tapi aku tidak menunggu di depan pintu sekolah seperti biasa. Aku bersembunyi di balik semak. Aku ingin tahu apakah setelah hatimu tak lagi untukku kamu masih mencari aku bila aku tak muncul di depan gerbang. Setelah beberapa saat aku menunggu, akhirnya kau muncul juga…. bersama cewek itu. Oh Tuhan, runtuh rasanya langit diatas kepalaku ini melihat kau gandeng cewek itu dengan sangat mesranya. Dan kau juga tidak sibuk mencariku seperti biasanya bila aku tidak muncul. Ah, kau benar-benar sudah melupakan aku. Kau lupakan hubungan kita yang sudah terjalin semenjak kamu masih duduk di kelas 1. Itu artinya sudah hampir 3 tahun kita berteman, dan dengan mudahnya kau lupakan aku hanya gara-gara cewek itu. Ternyata aku salah sangka tentangmu selama ini. Kupikir kau adalah tipe laki-laki setia.

 

Dengan lunglai kulangkahkan kakiku menjauhi sekolahmu. Sudahlah, mungkin memang ini saatnya aku berpisah denganmu. Biarlah aku mencari kehidupan yang lain di luar sana. Aku cukup tahu diri untuk pergi dari hidupmu, karena bagaimanapun baiknya kamu padaku kenyataan tentang diriku tak dapat dirubah. Tiba-tiba kudengar seseorang memanggil namaku. Dengan hati berdebar-debar kutolehkan kepalaku dengan sedikit harapan engkaulah yang memanggilku itu. Betapa kecewanya aku, ternyata Pak Parto, penjaga sekolah yang memanggilku. Tapi hatiku cukup tersanjung juga karena ternyata masih ada orang lain yang menginginkan kehadiranku. “Bleki, sini anjing manis! Ini aku punya tulang untukmu”, kata Pak Parto sambil membelai lembut rambutku.

Siang itu aku sedang berbelanja di sebuah swalayan di Bandung. Entah kenapa tiba-tiba aku tertarik untuk mengamati para pembeli yang ada disana. Ternyata sebagian besar dari mereka adalah ibu-ibu yang berpakaian panjang dan berkerudung. Dari pakaiannya ini aku bisa memastikan bahwa mereka muslim. Mereka mengantri di depan kasir dambil mendorong troli yang penuh kue-kue dan barang-barang lain yang mahal harganya.

 

Terlintas dalam benakku, betapa konsumtifnya para muslimah dewasa ini. Mereka membelanjakan uangnya secara berlebih di sebuah supermarket yang mahal dan bergengsi. Padahal, keberadaan supermarket itu tanpa disadari telah menggeser fungsi toko-toko kecil sebagai penyedia kebutuhan sehari-hari. Tentu saja kelas menengah keatas akan cenderung memilih supermarket yang nyaman dan ber AC dengan selisih harga tak lebih dari seribu rupiah, dibandingkan berbelanja di toko-toko kecil yang semrawut dan panas.

 

Dengan memberanikan diri dan bermodal nekat, aku mendekati seorang ibu yang sedang berada di counter mainan anak. Ibu itu bersama seorang anak kecil yang juga berkerudung seperti dirinya.

 

“Ngeborong nih, Bu?”, tanyaku sopan, sambil melirik trolinya yang penuh barang belanjaan.

“Enggak, buat persediaan. Belanja mingguan aja”, jawab ibu itu

“Belanja mingguan kayak mau buka toko kelontong begini”, pikirku dalam hati.

“Putri ibu?”, tanyaku sambil tersenyum pada gadis kecil yang bersamanya.

“Bukan putri kandung, sih. Anak angkat, begitulah. Anak kandung saya ada dua, dua-duanya sudah sekolah di SMU. Saya suka anak-anak, jadi saya ambil anak angkat. Saya punya dua anak angkat”, cerita ibu itu panjang lebar.

 

Setelah berbasa-basi sedikit aku berlalu dan berpikir lagi. Sebenarnya mereka bukan orang-orang yang pelit beramal. Mereka juga beramal dan bahkan mungkin amal mereka sudah lebih banyak dari orang lain. Tapi rupanya uang mereka masih tersisa cukup banyak sehingga mereka membelanjakannya secara berlebihan.

 

Di sudut yang lain dari supermarket ini, aku mendengar percakapan dua anak muda. Dan kebetulan dua-duanya memakai kerudung juga.

“Ke counter tas yuk, aku pengen beli tas warna merah”, katanya pada temannya.

“Beli tas lagi? Emang tas yang bulan kemarin kamu beli kamu kemanain. Belum rusak kan?” tanya temennya.

“Ada dirumah, tapi nggak salah kan kalo aku beli lagi, buat nge-matching-in bajuku yang kemarin itu”, jawabnya enteng.

 

Aku hanya menggelengken kepala heran. “Buat apa sih punya tas banyak-banyak?”, kataku dalam hati. Itu contoh yang lain dari pola hidup konsumerisme. Kalau dengan satu tas sudah cukup kenapa harus membeli dua atau tiga hanya untuk memenuhi tuntutan mode.

 

Nabi Muhammad SAW selalu menganjurkan kita untuk hidup zuhud, berapapun kekayaan yang kita miliki. Zuhud itu merupakan sikap hidup. Sikap hidup zuhud memerlukan keikhlasan dan kerendahan hati untuk memandang dunia sebagai sarana untuk beribadah dan berjihad saja.

 

Ini bukan berarti kita harus hidp miskin. Tidak !! yang ingin dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah hidup sederhana. Jadi meskipun kita kaya tetapi kita harus tetap hidup sederhana dan secukupnya. Ukuran ‘secukupnya’ inilah yang harus kita waspadai dan harus kita tanyakan pada diri kita sendiri. Kita harus jujur pada diri sendiri tentang apa yang benar-benar kita butuhkan dan apa sebenarnya yang tidak kita butuhkan. Apalagi dengan gencarnya iklan di berbagai media massa, sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan bisa menjadi kebutuhan bagi kita. Kebutuhan kita sudah didikte oleh iklan-iklan tersebut.

 

Sebenarnya kalau Nabi Muhammad SAW mau,beliau bisa berfoya-foya dan hidup berlebih di rumah yang mewah. Tapi beliau dengan arifnya meninggalkan itu semua, dan memilih tinggal di rumah sederhana. Beliau juga menambal bajunya sendiri dan menyambung sandalnya yang putus. Tidak ada warisan yang beliau tinggalkan pada kematiannya. Hanya sebuah contoh teladan yang baik dan mulia yang seharusnya menjadi pedoman dalam hidup kita sehari-hari.

 

Sebuah pertanyaan melintas di benakku, “Apakah kita akan membiarkan wabah konsumerisme ini terus menjangkiti kaum muslimah kita?”

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.